Minggu, 08 Mei 2011

Manusia dan Sejarah

Manusia dan Sejarah

Berapakah luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada setiap manusia, untuk dimaknai, dihidupkan, lalu diabadikan? Apakah manusia, dalam perhitungan sejarah, memaknai dirinya dengan waktu atau biaya? Sejarah, pada mulanya menggunakan deret waktu. Di sini, setiap manusia menjadi setetes air di laut sejarah. Setetes air itu bernama umur. Dan kumpulan tetes-tetes itu disebut sejarah. Kita semua sejarah, dan tak ada yang lepas dari padanya. Air itu selalu mengalir. Sejarah pun begitu. Ia adalah sebuah suasana mengalir yang tak pernah selesai. Ia hanya akan berhenti pada sebuah tempat yang kita sebut Padang Mahsyar. Tapi ke manakah sejarah mengalir? Dan mengapa selalu ada riak dan gelombang? Pernahkah anda menanyakan, siapakah tetes-tetes air yang menjadi riak itu? Riak-riak itu ialah tetes-tetes yang menyatu dalam laut. Dan gelombang ialah manusia-manusia sejarah. Tak semua air menjadi gelombang, sekalipun semuanya punya peluang yang sama menjadi gelombang. Lalu apakah yang membuat tetes-tetes air itu menjadi gelomb g? Jawabannya adalah angin!! Inilah yang menanamkan ‘kehendak’ pada tetes-tetes air itu untuk menjadi gelombang. Ketika ‘sentuhan’ angin itu menguat, gelora kehendak juga akan menciptakan gelombang yang dahsyat. Angin itu adalah iman. Iman, terserah ia diberikan kepada kebenaran atau kebathilan, adalah rahasia di balik semua keajaiban sejarah. Iblis-lah yang menanamkan iman kepada kebathilan dalam diri manusia, hingga ia berkehendak menciptakan dauatul bathil. Dan, rasul-rasul sepanjang sejarah, adalah utusan Allah yang bertugas menanamkan iman kepada kebenaran dalam diri manusia, hingga lahirlah daripadanya daulatul haq. Semua manusia besar yang pernah hadir dalam sejarah, kata Sayyid Quthb, selalu mempunyai kelebihan yang amat menonjol pada kekuatan jiwa. Rahasia ini pula yang kita tangkap dari strategi Rasulullah SAW. ketika beliau ingin melahirkan pemimpin-pemimpin baru bagi manusia. Apa yang paling menonjol pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW bukan terutama kecerdasan, sekalipun itu ada, tapi adalah iman. Kata iman dalam pembahasan Al Qur’an, selalu membawa nuansa ‘gerak’ yang amat dalam. Iman adalah landasan abadi di atas mana akal melaju menaiki tangga menuju angkasa. Iman adalah rahasia darimana raga memperoleh kekuatan yang tidak diketahuinya. Kekuatan gerak pribadi bermula ketika iman merasuki jiwa, menggelorai hati, lalu bergemuruh dalam setiap sisi instrumen kepribadian kita. Bila keadaan yang sama merasuk ke dalam jiwa dan hati sebuah masyarakat secara kolektif, engkau niscaya akan menemukan gelombang yang dahsyat dalam sejarah.
Setiap kita, manusia, selalu akan memperoleh tempat dalam sejarah, bila kita mau membentangkan benang merah, yang menjalin gemuruh kehendak dalam jiwa dengan gemuruh gerak ombak dalam laut sejarah. Maka saat-saat ’pasang’ dalam sejarah Islam, kata Syekh Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi, selalu bergerak sejajar dengan iman. Dan saat-saat ‘surut’, sebaliknya, selalu bergerak sejajar dengan kelemahan iman.Maka dari itu yang sanggup mengusung peradaban memakmurkan bumi ini menjadi lebih baik hanya ada di tangan para pemimpin yang tercerahkan oleh wahyu Tuhan. Kita teramanati sebagai “khalifah” oleh Allah Yang Maha Esa (QS; Al-Baqarah:30). Hakikatnya seorang khalifah bukan hanya seorang “pemimpin”tapi juga sebagai “arsitek” karena dalam hal ini dia juga teramanati untuk “merawat” dan “membangun peradaban”ardhun secara keumuman-keumuman “pembangun”. Dengan kata peradaban di belakangnya berati “pembangun peradaban”.Dan siapa arsitek peradaban itu? adalah kita, Ya kita, MANUSIA. Peradaban adalah hasil budaya manusia pada masa manusia tersebut hidup dan bermasyarakat (Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.). Dalam antropologi kebudayaan, manusia dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. (Wikipedia Indonesia) Dalam konteks “arsitek pradaban” bisa dikatakan sadar tidak sadar dan langsung tidak langsung. Yang mana kedepannya sadar akan ‘bersinonim” dengan langsung dan tidak sadar akan “bersinonim dengan tidak langsung. Dan keduanya akan berantonim secara pasangan. Secara sadar atau langsung, dalam posisinya manusia sebagai “kholifah” yang teramanati untuk menjaga ardhun beserta isinya Secara tidak langsung atau tidak sadar, adalah fitrahnya sebagai mahluk sosial, dengan pernikahan misalnya.Karena dalam pernikahan sejatinya ada “peradaban” yang kita bangun disana. Bukan saja menyempurnakan agama dan “penyelamatan” diri atas “syahwat yang negatif”. Ala kuli hal, setiap dari kita adalah “arsitek peradaban”, dan itu tidaklah mudah memang. Membutuhkan kesabaran dan kejuhudan yang diringi dengan ketaqwaan kepada Illahi Rabbi.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar