Sabtu, 16 Juni 2012

“Terhukum, Tanpa Pengadilan Tanpa Penjara”


Oleh : Afrili Suyari*
Bismillahirrahmannirrahiim, 

Imam Ghazali pernah bertuah “Kesungguhan cinta membuat seseorang memilih ucapan kekasihnya daripada ucapan orang lain, memilih duduk bersama kekasihnya daripada duduk bersama orang lain, dan memilih ridho kekasihnya daripada ridho yang lainnya”, nampaknya kalimat bijak ini tidak berlaku pada orang yang satu ini. Seseorang yang kebetulan telah berada di KAMMI selama satu tahun lebih dan hingga kini telah diamanahkan sebagai kepala departemen X KAMMI Komisariat UBAA Unpad, masih belum menemukan passionnya terhadap KAMMI (memang dikarenakan orang ini belum memahami cita-cita besar yang diusung KAMMI). Pilihan untuk tetap berada di KAMMI semata-mata hanya dilakukan oleh orang ini karena tsiqoh pada arahan mas’ul dan murobbinya.
Dua hari satu malam di Taman Firdaus, ternyata mampu merekonstruksi ulang persepsi orang ini terhadap KAMMI. Tidak hanya sekedar Training Dasar Organisasi biasa, agenda TDO 2012 sungguh berisi materi yang sarat akan essesi ke-KAMMI-an. Tidak hanya menjabarkan mengenai dasar-dasar organisasi, manajemen waktu, manajemen konflik ataupun materi dasar lainnya, disini sensitifitas peserta TDO 2012 diuji dengan stimulus dinamisasi pergerakan di Indonesia. Ana berani memberikan rating sempurna (5 bintang) terhadap TDO 2012 sebab bahasan materi dalam TDO 2012 sarat akan ke-KAMMI-an yang kental hingga ana rasa “hampir mirip” dengan agenda DM2, namun dalam porsi yang berbeda tentunya.
Setelah mengikuti agenda TDO 2012, seakan merasa ter ”Hukum” tanpa pengadilan, sejenak Ana menjadi tersangka dalam sidang nurani. Mengutip pesan ketua KAMMI komsat UBAA UBK Unpad, “Tanpa cinta yang mendalam terhadap KAMMI, kita tidak punya kemauan dan ketulusan untuk memberi dan berkorban. Pengorbanan bukanlah “Ritual” kewajiban sebagai anggota KAMMI, pengorbanan di KAMMI haruslah menjadi ‘Ritual’ cinta”. Yaa... cinta... karena cinta ana ada disini, bukan karena amanah ataupun karena arahan mas’ul/ murobbi. Ana telah terhukum, oleh ketidak pahaman Ana selama ini yang menganggap bahwa KAMMI adalah wajihah biasa dengan visi dan misi yang biasa. Dalam materinya kang Wayan pernah menuturkan, “Yang jelas, jika bangsa ini terhimpit dan terlilit oleh problematika kehidupan, sesungguhnya, yang dapat membuatnya bertahan adalah harapan kita. Sebaliknya, yang akan membuat bangsa ini kalah atau bahkan mematikan daya dan energinya adalah saat di mana kita sebagai sebuah bangsa atau bahkan umat kehilangan harapan. KAMMI membawa harapan itu. Untuk Indonesia yang lebih baik.” Point itulah yang sangat menghujam di hati Ana hingga saat ini dan insyaAllah untuk kedepannya. Syukron TDO 2012, “Semangat berkontribusi, bergerak tiada henti, bersiap menjadi Mujahid sejati!”. Allahuakbar!!!


*) Alumni TDO 2012 PK KAMMI UPI


0 komentar:

Posting Komentar