Kenali Kartini Sampai Tuntas!

Kartini adalah perempuan yang terlahir dari kalangan priyayi Jawa pada tanggal 21 April 1879. Ia putri dari Bupati Jepara Raden Mas Sosroningrat dari istri pertamanya, namun bukan yang utama. Artinya ketika menikah dengan ibunda Kartini yakni M.A. Ngasirah ia masih menjabat sebagai seorang wedana di Mayong. Seiring berjalannya waktu R.M. Sosroningrat diangkat menjadi Bupati, namun peraturan kolonial ......

Mengapa Aku Mencintai KAMMI

“Orang bijak berkata... bahwa mencintai itu tak butuh alasan.” Jumat, 24 Juni 2011. Semua barang sudah disiapkan. Dicek untuk terakhir kalinya, kemudian melaju ke kampus Unisba. Daurah Marhalah I. Saat itu, diri ini memang belum mengerti kegiatan seperti apa dan untuk apa DM I itu. Di perjalanan, terlintas peristiwa beberapa tahun silam ketika seorang teman mengajak untuk masuk KAMMI....

KAMMI, PENDIDIKAN UNTUK PERADABAN

Indonesia, mendengar kata itu terngiang di benak seorang pemuda akan perjuangan dan pengorbanan para pejuang tangguh. Kini saatnya seorang pemuda ambil alih,...

HIBRIDISASI PENDIDIKAN SEBAGAI KATALISATOR PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA MASA DEPAN

Memasuki abad ke-21 ini, pendidikan nasional Indonesia menghadapi tantangan yang berat yaitu tantangan globalisasi, otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan untuk mengembangkan pendidikan...

Menuju DM 1 KAMMI UPI yang Ideal

“Membentuk kader yang mujahadah dalam beraktualisasi dan beramal dengan intelektualitas yang tinggi menuju generasi Robbani”, Itu yang menjadi fokus kerja Tim Kaderisasi KAMMI UPI kedepan.

Sabtu, 11 Mei 2013

Pemuda PEMBANGUN Peradaban

Oleh: Maya Kusdiantini (Staf Humas KAMMI UPI)

sumber gambar: algheraze.blogspot
                 Jika membayangkan kata peradaban lantas apa yang tersirat dibenak kita?.  Berbicara peradaban maka kita mulai berbicara SDM (Sumber Daya Manusia). Untuk membangun sebuah peradaban yang madani tentu dibutuhkan kualitas SDM yang baik maka SDM yang baik tentu tak lepas dari hasil produksi Pendidikan. Bagi mahasiswa yang berlatar belakang pendidikan tentu sudah tidak asing lagi dengan kata ini dan sudah lebih memahami makna dan tujuan pendidikan itu sendiri. Sekilas saya bahas salah satu pengertian Pendidikan. “Pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”. (UU RI No.  20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1) . Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan dengan pendidikan seorang manusia mempunyai potensi besar untuk memiliki kualitas terdidik sehingga bisa menjadi manusia yang berguna. Jika manusia memiliki kualitas terdidik seperti kriteria yang disebutkan dalam Undang-undang maka Negara tentunya akan memiliki SDM yang berkualitas dan negeri ini bukan lagi menjadi Negara berkembang namun menjadi Negara maju. Pertanyaannya, apakah memang sudah terealisasikan hal tersebut? Dengan melihat berbagai fakta krisis pendidikan di negeri ini? Ambilah, Salah satu contoh kasus yang hangat saat ini adalah carut marut UN dan pergantian kurikulum 2013. Pihak pro dan kontra dari kalangan birokrat, guru, mahasiswa, warga terus memperdebatkan hal ini namun seperti kasus-kasus sebelumnya yang melebur dan tidak pernah usai layaknya cuplikan film yang bertuliskan to be continue namun sayang belum selesai satu episode malah dimunculkan episode baru.  Masih adakah masalah pendidikan selain itu? Coba jawablah dengan hati dan pikiran anda.
               
                Sudah terbayangkah masalah-masalah itu? Lantas apa yang bisa kita perbuat setelah kita melihat fakta-fakta “kemiskinan pendidikan” di tanah air yang kita pijakan ini?. Ingatkah dulu ketika MOKA, kita dikenalkan dengan 3 peranan mahasiswa yaitu social control, iron stock dan agent of change maka sudah sepantasnya kita menyadari fitrah kita sebagai mahasiswa. Tidakkah terketuk hati kita ketika saudara-saudara kita diluar sana kehilangan hak nya untuk mengenyam pendidikan ataukah kita tega melihat anak-anak kita kelak terpuruk dalam pendidikan yang sudah tidak sehat bilamana mahasiswa saat ini hanya diam, tidak peduli dengan fenomena degradasi kualitas SDM pendidik di Indonesia. Mari maksimalkan peranan kita. Tidak cukup dengan kita hadir full time dalam setiap agenda kuliah, namun perlunya sejak saat ini kita mengasah hati dan pikiran kita atas permasalahan pendidikan yang terjadi hari ini. Bukankah fungsi kita adalah untuk menyelesaikan masalah rakyat? Bukan sekedar mengejar nilai, gelar, karir dan kedudukan. Sebagai calon pendidik maka sensitifitas terhadap permasalahan pendidikan sudah menjadi sebuah keharusan yang melekat dalam jiwa kita. Dan bukankah manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain?. Jangan sampai kita  menjadi bungkus snack kosong yang telah diproses dengan teknologi canggih namun tetap berakhir di tempat pembuangan sampah.
                
         Siapakah yang menculik Soekarno ke rengasdengklok dan memaksanya untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan? Siapakah yang menggulingkan tirani Soeharto pada era orde baru?. Jawabannya Mahasiswa. Mahasiswa adalah kaum intelektual yang terkenal dengan kekritisan, kreatif, dan solutif. Maka peradaban ada di tangan mahasiswa dengan sikap kekritisannya terhadap berbagai permasalahan hingga memunculkan tekad untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan tindakan. Maka dengan visi yang sama yaitu membangun peradaban madani, mahasiswa mampu menjadi pembangun peradaban. Apalagi dengan status sebagai pendidik maka kita memiliki peranan yang cukup besar untuk mencetak SDM berkualitas yang mampu untuk menyulap negeri ini menjadi sepenggal firdaus hingga lahir SDM dari negeri yang siap berekspansi ke negeri lain untuk mewujudkan cita-cita membangun peradaban yang madani. Mari kita mulai hari ini dengan langkah paraktis. Mulailah dari membangun kekritisan terhadap isu-isu pendidikan di negeri ini minimal isu pendidikan di kampus sendiri, lalu munculkanlah budaya diskusi dalam forum kajian isu, bersama merumuskan solusi dan mulailah bersama bergerak dengan arah dan landasan yang benar dan terbaik. Selalu yakin bahwa setiap proses akan baik bila niat lurus dan setiap hasil akan baik manakala kita berdoa dan yakin kepada sang Pencipta. 

Siapa yang bisa menguatkan hati mereka (rakyat) dan membela hak mereka jika bukan kita (kaum intelektual). Ketika tidak ada lagi yang menyuarakan kepedihan rakyat kepada pemimpin di sana, maka berarti sudah tidak ada lagi pemuda.

Setiap muslim bersaudara dan dimanapun tempat mereka berada maka disana tanah air kita dan sudah sepantasnya kita membela mereka dimanapun mereka berada.

Anak-anak yang kelak kita lahirkan
Anak-anak yang kelak menjadi keturunan kita
Merekalah generasi masa depan
Maka mampukah kita melihat mereka dalam keterpurukan
Karena kelalaian kita dalam membenahi negeri hari ini
Generasi masa depan tergantung pada generasi sekarang
Bila kita mengecap pahitnya hari ini maka jangan biarkan pahit ini dikecap oleh anak-anak kita
Menyelamatkan anak-anak kita adalah Menyelamatkan generasi Masa Depan
Menyelamatkan generasi masa depan dimulai dari mengoptimalkan peranan kita sebagai mahasiswa
Kembali kepada fitrah mahasiswa yaitu kaum intelektual yang berkarakter, selalu bergerak dan berdedikasi untuk agama dan negeri ini

-maya kusdiantini-

Pendidikan dan Perempuan

Kotretan Beranda Akhwat PK KAMMI UPI
Oleh: Arum Wulandari
Dihadiri oleh 13 orang akhwat

sumber: menarailmuku.blogspot.com

Permasalahan Pendidikan di Indonesia
Kenapa tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional? Karena itu Salah satu penghargaan kepada tokoh Ki hajar dewantara yang dianggap memberikan kontribusi banyak terhadap pendidikan.
Tigak tokoh yang berpengaruh pada pembentukan sekolah Taman Siswo  yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara:
1.        Rabindranath Tagore dari India “Shanti Niketan”,
2.       Maria Montessori  “Casa dei Bambini”, dan
3.       Rudolf Steiner "Antrophosophy Society".

Corak kebatinan dan theosofi, ada 3 sistem among yang digunakan:
1.        Mengabdi pada prikemanusiaan
2.       Membangun kepribadian sesuai kodrat alam
3.       Membangun kemerdekaan

Selintas tentang Ibnu Kholdun
Ibn Khaldun merupakan pemikir dari dunia Arab, di saat dunia Arab mengalami kemandegan. Ibn Khaldun yang bernama lengkap Abu Zaid Abd-Ar-Rahman Ibn Khaldun, seorang sajarawan besar Islam pada abad pertengahan. Ibn Khaldun dilahirkan pada 27 Mei 1332 (1 Ramadhan 732 H) di Tunis.
Ada 3 konsep yang dimiliki dan menjadi kekhasan:
1.        Peningkatan pemikiran
2.       Kemanpaatan masyarakatan
3.       Kerohanian
Pendidikan Islam:
1.        Tarbiyyah “Pemeliharaan / asuhan”
2.       Ta’lim “Pengajaran”
3.       Ta’dhih “Pembinaan budi pekerti”

Wahabi: salah satu pembaharu islam di arab yang paling menentang bid’ah.
Sebuah pemikiran itu bisa dikalahkan jika
Sejarah itu bukan lagi masa lampau, tapi perjalan hidup yang terus bersambung dan bagaimana kini membuat catatan2 sejarah kedepan yang lebih visioner.
Sejarah itu perdebatan ideologi, yang lalu menjadi potret saja sekarang saatnya kita membuat sejrah baru dengan bekal intelektual hasil belajar dari potret2 lama.
Kenapa kita harus Belajar sejarah dan memperalam ilmu? Karena kedepan kita yang akan memegang dan menggantikan para pelaku sejarah kedepan.
Kebanyakan sekarang itu banyak Politik-politik kepentingan berbau tidak intelek. Maka dari itu akhwat punya kewajiban untuk:
1.        Kita harus punya visi yang besar
2.       Kita harus punya prodak
3.       Menambah kapasitas
4.      Membuat jaringan sebanyak2nya.
5.       Komitmen

Sikap AKHWAT KAMMI UPI tehadap kondisi pendidikan saat ini:
1.        Menolak kurikulum 2013
2.       Pemerintah harus membuat grand design pendidikan minimal 15 tahun
3.       Pengambilan berbagai macam kebijakan harus berdasarkan riset
4.      Menolak UN

Minggu, 05 Mei 2013

Aku dan KAMMI, akhirnya...

Karya: Rizka Rudiansyah (Kader KAMMI UPI)

Sulit untuk dilupakan olehku satu masa yang menjadi titik awal gejolak perubahan positif dalam diri ini. Perubahan-perubahan inilah yang sebenarnya aku nanti selama ini, perubahan ini juga merupakan semua jawaban atas berbagai masalah yang terjadi disekelilingku, mungkin juga jawaban atas permasalahanku selama ini. Masa itu ialah ketika aku mengikuti DM 1 KAMMI yang di laksanakan oleh ITB dan STKS. Sejujurnya ku katakan hari itu menjadi hari yang berat untukku pergi mengikuti DM 1 karena beberapa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kesehatanku yang sedang Allah uji dan belum lagi ada segelintir orang yang mempunyai asumsi yang kurang baik dengan organisai ekstra ini (KAMMI), tapi Allah yang Maha bijaksana nan Maha baik lah yang pada hakikinya membawaku ke sebuah tempat dimana banyak orang-orang yang hanif yang siap menempa diri ini dengan hal-hal yang bersifat konstruktif meski segudang masalah menghalang-halanginya.

Aku sangat bersyukur ketika Allah pertemukanku dengan orang-orang yang jiwa sosialnya tinggi, orang-orang yang peduli dengan segudang problematika umat, dan orang-orang yang senantiasa menegakkan panji-panji islam di bumi Allah yang mulia ini, tak ada sekat yang menghalangi kita meski latar belakang (suku) kita berbeda-beda namun ada kesamaan yang membuat kita saling menyayangi, mengasihi, dan saling mengerti yaitu “dinullah” (islam) yang menumbuhkan tali persaudaraan (ukhwuah islamiyah) yang kuat yang takkan putus bagaikan rel kereta api. Tujuan kita pun sama ialah kemenangan islam. Subhanallah

Sekali lagi aku sangat bersyukur bisa mengikuti DM 1 KAMMI yang dilaaksanakan di ponpes Babussallam, kini aku sadar “baik untuk pribadi itu belum cukup”, maka jadilah orang  yang peka terhadap permasalahan umat, di DM 1 inilah aku dibentuk menjadi orang yang mau untuk peduli terhadap berbagai permasalahan sosial yang terjadi, bukannya “khairunnaas anfa uhum linnas” dan bukan juga Allah lebih menyukai “Muslim yang kuat ketimbang Muslim yang lemah”. Lalu pertanyaannya siapakah yang kan menyelesaikan segudang permasalahan umat? Jawabannnya ialah kita. Sebagai seorang Muslim kita harus peka terhadap situasi sosial yang ada, kita harus membantu rakyat atas hak-haknya dari seorang pemimpin. Semua ini aku dapatkan dari serangkain acara kaderisasi KAMMI yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 April 2013 lalu.

Terakhir, orang bijak berkata,“ketika kau lahir semuanya tersenyum sedangkan engaku menangis, maka jadilah insan yang ketika kita wafat semua orang menagis sedangkan kita tersenyum”.  Kata-kata bijak ini tentunya memiliki arti yaitu manusia akan dikenang ataupun tidak tergantung pada hal-hal yang mereka perbuat semasa hidupnya, jika semasa hidup dihiasi dengan kebaikan, baik itu untuk pribadi dan orang lain, maka sudah sunnahtullah semua orang akan merasa kehilangan ketika kita wafat. Jadilah orang yang ibadahnya taat, aksinya kuat, dan prestasinya hebat. 

editor: maya kusdiantini

Rabu, 01 Mei 2013

Menuju DM 1 KAMMI UPI yang Ideal


oleh: Lia Aliyah (Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI UPI)

“Membentuk kader yang mujahadah dalam beraktualisasi dan beramal dengan intelektualitas yang tinggi menuju generasi Robbani”, Itu yang menjadi fokus kerja Tim Kaderisasi KAMMI UPI kedepan. Bukan hal yang mudah karena biasanya realita yang terjadi  mampu meredam idealitas yang tinggi. Namun tidak untuk KAMMI disini, bermodalkan Iman dan Ukhwah serta  kemauan dan optimisme yang tinggi mampu membendung idealitas itu disertai kesungguhan dan fokus dalam mewujudkannya. Meski sejatinya kita disini hanya berupaya dan berikhtiar, selebihnya kehendak ALLAH dalam mengubah dan membulak-balik hati setiap hamba-Nya.
Daurah Marhalah Merupakan  sarana pengkaderan formal KAMMI yang dilakukan secara sadar, terencana, sistematis dan berkesinambungan berdasarakan pada  pedoman secara nasional (Manhaj KAMMI 1430 H) dalam upaya mencapai tujuan pengkaderan dan tujuan organisasi KAMMI. Sederhananya Daurah Marhalah atau yang seringkali kita sebut DM ini merupakan salah satu pengkaderan atau gerbang awal untuk bergabung dalam barisan atau wajihah KAMMI.
PK KAMMI UPI kembali membuka pintu gerbang DM 1 KAMMI UPI dengan selebar-lebarnya untuk seluruh mahasiswa muslim indonesia, dengan tema “Melahirkan Muslim Negarawan Berbasis Intelektual Profetik”. Yang akan dilaksanakan:
Hari      : Jum’at-Ahad
Tanggal: 17-19 Mei 2013
Tempat: Al-Karim (Cijanggel)
         Bagaimana peran mahasiswa pendidikan dan akademisi dalam dunia politik? Temukan jawabannya dalam DM PK KAMMI UPI,Wujudkan Mahasiswa Cerdas yang Negarawan.
SEGERA DAFTARKAN!!!
Ketik: DAFTAR_NAMA_JURUSAN/ANGKATAN_NO KONTAK
Kirim ke: Ikhwan 085221996810
               Akhwat 089664685224
Disetiap masa itu ada kepemimpinan dan di setiap kepemimpinan akan ada ruh pembaharu dengan spirit perbaikan, maka ketahuilah ruh pembaharu itu yang akan membawa dan menentukan ruh zaman untuk sebuah pearadaban. Sesungguhnya disetiap kepemimpinan ada narasi-narasi Allah yang telah dan siap menyejarah, maka dengan rahmat Allah akan hadir kebaikan dari setiap kepemimpinan zaman.
#Menuju DM1 KAMMI UPI. (maya)





Selasa, 30 April 2013

KAMMI, Pendidikan untuk Peradaban

Oleh: Putri Wulandari
            Indonesia, mendengar kata itu terngiang di benak seorang pemuda akan perjuangan dan pengorbanan para pejuang tangguh. Kini saatnya seorang pemuda ambil alih, ambil alih perjuangan tersebut untuk memajukan negeri. Negeri yang selama ini terus terjajah, negeri yang penuh onak duri, negeri yang kata orang adalah surga, katanya. Tapi nyatanya hanya bagi koruptor, hanya bagi penjahat-penjahat modern. Maka, bukan saatnyalah semua itu harus harus ditanggung, bukan saatnya kita menggantungkan pada orang lain. Kini, kita sebagai seorang pemudalah yang akan mennggantikan.
            Pendidikan adalah peradaban, dimana dengan adanya pendidikan maka dunia dapat diubah hanya dengan satu pemikiran. Pemuda, itulah sebuah subyek dalam pemikiran tersebut. Mahasiswa yang menduduki peran sebagai intelektual muda. Yang mana tak ada yang ‘ditakuti’ presidan kecuali mahasiswa. Pemikirannya yang  luar biasa membuat presidan Indonesia tak ada kata selain ‘YA’ ketika mahasiswa telah berdialektika.
            Pendidikan yang saat ini sebagai air minum bagi seorang musafir yang kehausan ditengah gurun pasir yang panas. Pendidikan yang membuat seorang Bill Gates menjadi orang paling kaya didunia. Pendidikan yang membuat manusia-manusia biasa menjadi manusia dewa. Pendidikan yang membuat Gayus Tambunan terbuai dunia yang membutakan hatinya, tapi itu pendidikan yang tak mendidik.
            Pemuda yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Idonesia atau KAMMI yang akan mengubah peradaban pendidikan sendiri. Disini KAMMI berperan dalam menuntaskan semua permasalahan-permasalahan pendidikan yang akan menelanjangi semua pemikiran-pemikiran rakyat. Saatnya KAMMI ambil alih dalam pendidikan.
            KAMMI berperan dalam membangun pendidikan Indonesia, karena kader yang tergabung dalam dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia bukan hanya sekedar kader, tapi kader yang siap mengabdi untuk Indonesia. Disini KAMMI berperan dalam mengentaskan kebodohan dengan membaca, mengkaji, dan diskusi agar semua kader dan rakyat dapat memperoleh wawasan dan pendidikan yang memadai. Selain itu KAMMI juga akan mengabdi kepada masyarakat, dengan gerakan 1001 buku yang akan dibagikan kepada kalangan-kalangan yang sangat kurang dalam hal pendidikan.
            Itulah KAMMI, seorang pemuda yang mayoritas memiliki pemikiran-pemikiran hebat dan ideologi kuat untuk membangun islam kembali berjaya, untuk membangun pendidikan kearah peradaban yang lebih konstan. Karena KAMMI seorang pemuda, seorang mahasiswa yang berintelektual profetik yang mengambil alih peran dalam membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik. 

HIBRIDISASI PENDIDIKAN SEBAGAI KATALISATOR PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA MASA DEPAN


Sebuah Narasi Yang Meninjau KAMMI Sebagai Organisasi Berbasis Kompetensi
oleh:
Neneng Maryam Jamaliah Nurul Jannah

            Memasuki abad ke-21 ini, pendidikan nasional Indonesia menghadapi tantangan yang berat yaitu tantangan globalisasi, otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan untuk mengembangkan pendidikan yang relevan dengan kehidupan warga serta didukung oleh masyarakatnya. Tantangan yang lebih serius lagi berkaitan dengan rendahnya mutu dan relevansi pendidikan Indonesia seperti telah banyak di laporkan oleh beberapa lembaga riset Internasional. Misalnya, berdasarkan survei The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di hongkong disimpulkan bahwa sistem pendidikan Indonesia berada pada urutan ke-12 di Asia, setelah Vietnam, dengan urutan pertama dan kedua masing-masing diduduki Korea Selatan dan Singapura.
            Hasil survey yang didasarkan pada mutu tenaga kerja ini menunjukan bahwa rendahnya mutu tenaga kerja kita itu berhubungan dengan rendahnya mutu sistem pendidikanya (Depdiknas, 2001). Merosotnya mutu sumber daya manusia termasuk menurunnya nilai-nilai dan orientasi pendidikan telah mengkhawatirkan sebagaian besar pemerhati pendidikan di negara kita ini.
            Sebuah format pendidikan mengarah kepada cita-cita pendidikan nasional sudah menjadi sebuah keharusan untuk di jalankan karena proses pendidikan harus mengarah kepada bagaimana elemen pendidikan dan perangkat-perangkat pendidikan dapat menjalankan sesuai dengan fungsinya yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa. Begitupun gagasan-gagasan cerdas yang bisa dikembangkan oleh kader KAMMI, menjadi hal yang ditunggu-tunggu demi kemajuan pendidikan di Indonesia. KAMMI sebagai salah satu organisasi berbasis kompetensi mengaharapkan kadernya dapat mendalami ruang ilmiah kemudian diinfiltrasikan kedalam bentuk kebijakan publik.
            Saat ini, kurikulum Indonesia yang seringkali mengalami perubahan tanpa fokus terhadap orientasi dasar diselenggarakannya proses pendidikan tersebut seringkali membuat absurd bagaimana kemudian peserta didik itu di berikan treatment, selain itu pendidikan formal saat ini yang diharapkan dapat membantu membentuk karakter peserta didik nyatanya belum memberikan hasil yang signifikan. Hal ini, dalam persfektif penulis diakibatkan karena belum adanya sinergitas peran yang dimainkan dalam oleh berbagai elemen bangsa ini. Kemendikbud yang menjadi tulang punggung pelaksanaan program pendidikan, sepertinya memerlukan sokongan yang mantap dari kementrian agama, sebagai salah satu elemen keagamaan di negeri ini, yang notabene bertanggung jawab penuh juga terhadap kondisi nilai-nilai yang berkembang. Format pendidikan sudah harus di jalankan dengan landasan untuk mengembalikan cita-cita pendidikan nasional. Agar permasalahan pendidikan dapat terselesaikan, tanpa harus menimbulkan sebuah beban bagi anak Indonesia untuk mendapatkan pendikan yang memang sudah selayaknya untuk di tempuh.
            Hibridisasi pendidikan yang dimaksud oleh penulis adalah mengkombinasikan pendidikan formal (sekolah-sekolah negeri) dengan pendidikan nilai melalui kerjasama institusi sekolah dengan asrama-asrama (boarding school) yang sebenarnya sistemnya diadaptasi dari sistem pesantren yang kemudian di modernisasi.
            Dari berbagai data diperoleh mengenai kelebihan pola pendidikan di pesantren, perlu diakui bahwa tidak semua pondok pesantren telah terselenggara dengan baik, sebagaimana hal itu juga terjadi bahwa belum semua lembaga pendidikan formal berjalan sebagaimana mestinya. Akan tetapi, akhir-akhir ini semakin diakui bahwa ternyata pesantren menyimpan kekuatan yang justru tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan formal.         hal ini yang mendasari pemikiran penulis untuk mengkombinasikan pendidikan formal sekolah dengan pendidikan nilai berbasis model pesantren (boarding school), tentu saja hal ini melibatkan stackholder terkait khususnya kementrian pendidikan dan kebudayaan serta kementrian agama untuk bisa mensukseskan program tersebut.
            Tentu saja hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam serta pertimbangan dari berbagai pakar pendidikan, baik dari segi struktur sistem, program serta psikologis pelaksanaan program yang penulis taawarkan tersebut. Namun demikian, penulis dapat memberikan sedikit ilustrasi keberhasilan program tersebut dari data yang diperoleh dari lapangan, selama penulis berkecimpung di salah satu sekolah bertaraf internasional yang diafiliasikan dengan sistem asrama dibawah pemerintahan provinsi Jawa Barat. Dari data didapatkan gambaran bahwa siswa yang mendapatkan pendidikan kombinatorial melalui hibridisasi pendidikan memiliki berbagai keunggulan, baik ditinjau dari kapasitas intelektul, sosial dan spiritual siswa.
           


Senin, 29 April 2013

Pemerintah Bukan Penentu Standar Kelulusan

BANDUNG, (PRFM) – Ketua Umum KAMMI UPI Bandung, Achmad Faqihuddin mengatakan bahwa seharusnya pemerintah bukan menjadi penentu standar kelulusan. Ia menilai, kebijakan ini merupakan bentuk dari pencorengan sistem pendidikan Indonesia.

“Pemerintah seharusnya hanya menentukan standar pendidikan bukan standar kelulusan. Kembalikan lagi kepada guru untuk menentukan lulus tidaknya siswa karena mereka lebih mengetahui kondisi anak didiknya,” ujarnya saat mengudara di mimbar kampus PRFM, Senin (29/4).

Faqih menganggap permasalahan UN bukan pada konteks dihapus atau dipertahankan namun pada tataran tujuan UN itu sendiri. Ia berharap kedepan apapun namanya nanti, kembalikan kelulusan kepada sistem satuan pendidikan. (Indra)