Kenali Kartini Sampai Tuntas!

Kartini adalah perempuan yang terlahir dari kalangan priyayi Jawa pada tanggal 21 April 1879. Ia putri dari Bupati Jepara Raden Mas Sosroningrat dari istri pertamanya, namun bukan yang utama. Artinya ketika menikah dengan ibunda Kartini yakni M.A. Ngasirah ia masih menjabat sebagai seorang wedana di Mayong. Seiring berjalannya waktu R.M. Sosroningrat diangkat menjadi Bupati, namun peraturan kolonial ......

Mengapa Aku Mencintai KAMMI

“Orang bijak berkata... bahwa mencintai itu tak butuh alasan.” Jumat, 24 Juni 2011. Semua barang sudah disiapkan. Dicek untuk terakhir kalinya, kemudian melaju ke kampus Unisba. Daurah Marhalah I. Saat itu, diri ini memang belum mengerti kegiatan seperti apa dan untuk apa DM I itu. Di perjalanan, terlintas peristiwa beberapa tahun silam ketika seorang teman mengajak untuk masuk KAMMI....

KAMMI, PENDIDIKAN UNTUK PERADABAN

Indonesia, mendengar kata itu terngiang di benak seorang pemuda akan perjuangan dan pengorbanan para pejuang tangguh. Kini saatnya seorang pemuda ambil alih,...

HIBRIDISASI PENDIDIKAN SEBAGAI KATALISATOR PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA MASA DEPAN

Memasuki abad ke-21 ini, pendidikan nasional Indonesia menghadapi tantangan yang berat yaitu tantangan globalisasi, otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan untuk mengembangkan pendidikan...

Menuju DM 1 KAMMI UPI yang Ideal

“Membentuk kader yang mujahadah dalam beraktualisasi dan beramal dengan intelektualitas yang tinggi menuju generasi Robbani”, Itu yang menjadi fokus kerja Tim Kaderisasi KAMMI UPI kedepan.

Rabu, 18 Juni 2014

JIHAD INTELEKTUAL

Karya: Erna Nur Hasanah (Ketua Departemen BPP PK Kammi Upi 2014)

Keutamaan Orang-orang Yang Berilmu

Sungguh indah jika kita digolongkan sebagai orang-orang yang berilmu sebagaimana firman-Nya,

“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Bahkan Muadz bin Jabal meriwayatkan bahwa “Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Pelajarilah ilmu karena ilmu karena Allah merupakan kekuatan, mencarinya merupakan ibadah, menyebut-nyebutnya merupakan tasbih, membahasnya merupakan jihad, mengajarkan kepada orang yang belum mengetahui merupakan shadaqah, menyampaikan kepada orang yang layak menerimanya merupakan taqarrub. Pelajarilah ilmu karena ilmu merupakan tanda-tanda halal dan haram, menara jalan para penghuni surga. Ilmu merupakan pendamping saat takut, teman saat terasing, teman bicara saat sendirian, dalil atas kesenangan dan kesusahan, senjata dalam menghadapi musuh, hiasan di hadapan teman. Allah meninggikan banyak kaum dengannya lalu menjadikan mereka pionir dalam kebaikan, yang jejak mereka diikuti, perbuatan mereka ditiru, dan pendapat mereka menjadi rujukan. Para malaikat berhasrat menyertai mereka, mengusap mereka dengan sayapnya. Siapapun memohonkan ampunan bagi mereka, yang basah yang kering, ikan paus di lautan dan segala jenis ikan, binatang buas di darat dan hewan-hewan lainnya. Ilmu merupakan kehidupan hati dari kebodohan dan merupakan lentera pandangan dari kegelapan. Seorang hamba mencapai tataran orang-orang pilihan dan derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat dengan ilmu. Memikirkan ilmu sama dengan puasa, mempelajarinya sama dengan shalat malam. Hubungan kekerabatan dapat tersambung karena ilmu. Ia merupakan imam bgai amal dan amal mengikutinya. Ia memberikan ilham kepada orang-orang yang bahagia, yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang sengsara.’” [Diriwayatkan Ibnu Abdil Bar An-Namri di dalam Kitab Al-Ilmi ]

Berkaca pada Sejarah

Agaknya sebagai generasi muda muslim, kita harus banyak merenungi tentang sejarah Islam di masa lampau. Berkaca pada kesuksesan generasi muda Islam pada masa itu, tentu saja untuk membangkitkan ghirah (baca : semangat) kita dalam memperjuangkan kembali peradaban muslim yang membawa rahmat pada alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Sejarah mencatat bahwa pada abad 9-13 Masehi, peradaban Islam benar-benar mencapai masa keemasannya. Hal ini tentu saja tak lepas dari penguasaan berbagai ilmu oleh para Cendikia Muslim ketika itu. Pada zaman keemasan tersebut, masyarakat muslim berevolusi menjadi masyarakat yang dinamis, maju, dan canggih. Sementara masyarakat yang lain masih statis dan lumpuh karena tradisi dan tata cara agama. Saat itu, masyarakat Islam telah memiliki Bait Al-Hikmah (artinya “Rumah Kebijaksanaan”, lembaga penerjemah literatur-literatur asing), observatorium astronomi, rumah sakit dan sekolah-sekolah. Baghdad, saat itu menjadi pusat intelektual dunia, tempat yang dituju oleh para sarjana dari negeri-negeri yang jauh. Ibnu Haytham dan Omar Kayam merupakan pelopor ilmuwan modern, pembawa kecerdasan kosmik alam semesta. Sebaliknya Eropa saat itu masih terpuruk, tenggelam dalam kemuraman Abad Kegelapan.

Mengapa Harus Berjihad?

Lihatlah keadaan kita saat ini! Kaum Muslim mengalami kemunduran di bidang ilmu pengetahuan dan kepemimpinannya dalam bidang ini, kemudian kendali berpindah ke tangan orang-orang Barat. Sehingga peradaban Barat menjadi idola bagi seluruh negara di dunia, termasuk di negara-negara Muslim. Tidakkah kita merindukan peradaban Islam ? Kaum Muslim menjadi pioneer bagi umat manusia, seluruh kebudayaan dan peradabannya dihormati dan ditiru, pemikiran-pemikiran para cendikianya didengar dan diikuti, terwujudnya konsep rahmatan lil ‘alamin… tidakkah kita merindukannya ? Jika jawabannya adalah YA, maka kita harus segera membangun kembali peradaban Islam. Membangun peradaban Islam maka membutuhkan ilmu.

Sehubungan dengan itu, maka penguasaan ilmu pengetahuan modern yang sebesar-besarnya seharusnya dikhidmatkan untuk pembangunan kesejahteraan kehidupan umat Muslim pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Menjadi rahmatan lil ‘alamin adalah sebuah tuntutan dan keharusan, maka hanyalah dengan semangat jihadlah kita bisa mewujudkannya. Dengan melakukan jihad intelektual tentunya.

Jika sekarang paradigma perang sudah berubah dari perang ‘angkat senjata’ menjadi perang informasi, bahkan juga perang pemikiran. Lantas apakah hati kecil kita terpanggil untuk melakukan ‘jihad intelektual ini’ ? Semoga jawabannya adalah YA, aamiin.

Sabtu, 14 Juni 2014

RESENSI "API SEJARAH 1"


Oleh: Achmad ALi Akbar (Staff Kajian Strategi PK KAMMI UPI 2014)

Info Buku:
Judul                     : Api Sejarah 1
Penulis                 : Ahmad Mansur Suryanegara
Penerbit              : Marjin Grafindo Media Pratama, Bandung
Tahun                   : Cetakan VI, Juli 2013
Tebal                     : xx + 586 halaman
ISBN                      : 978-602-84-5897-9

***
“Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad”
Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu
(QS al Hasyr [59] : 18)

Buku ini adalah sebuah cara baru dalam melihat sejarah indonesia, buku ini mengungkapkan sejarah-sejarah bangsa ndonesia yang diperjuangkan dengan tetesan darah ulama dan santri namun di distorsikan secara sengaja oleh penjajah dengan tujuan yang begitu tidak kita sadari. bangsa-bangsa barat berusaha menguasai sistem penulisan sejarah. mengapa? karena dari hasil penulisan sejarah, akan berdampak terbentuknya citra dan opini masyarakat, tentang kisah masa lalu yang di bacanya. ditargetkan dari hasil bacaannya akan menumbuhkan perubahan system keimanan dan tingkah laku social politik dan budaya selanjutnya, yang memihak penjajah.
Sebagai contoh Wali Sanga didongengkan sebagai tokoh penyebar islam yang sangat tidak islami, ia masih melaksanakan ritual-ritual hindu Buddha. Dapatlah diperkirakan dampaknya terhadap masyarakat pembaca, penulisan sejarah walisanga yang demikian melahirkan kedjawen di jawa tengah dan jawa timur, sedangkan di jwa barat ada aliran kesunden. Yang lebih mengutamakan ajaran leluhur atau nenek moyang.
Didalam buku ini Ahmad Mansyur Suryanegara mencoba mengungkapkan fakta sejarah mengenai peran besar kepemimpinan Ulama dan Santri dalam perjuangan menegakkan kedaulatan bangsa dan Negara dari penjajahan Barat maupun Timur yang bahkan tidak dituliskan dalam buku-buku sejarah kita di SD-SMP-SMA. Sehingga terkesan seolah-olah ummat islam tidak memiliki peran berarti bahkan cenderung menempatkan islam sebagai kekuatan pemecah belah bangsa, sebagai contoh penaklukan madjapahit oleh kesultanan islam demak.
Buku ini pun coba mengungkap beberapa hal yang patut dipertanyakan seperti hari-hari besar di Indonesia seperti haarkitnas, dan hardiknas yang diambil dari hari kelahiran tokoh pendidikan nasional.
Upaya deislamisasi Sejarah Indonesia sudah dilakukan sejak lama, menjadikan peran Ulama dan Santri dibidang ipoleksosbud dan hamkam, tidak menjadi tempat terhormat dalam penulisan Sejarah Indonesia. Sementara masyarakat awam dan cendekiawan Muslim sangat kurang memperhatiakannya. Mereka mengira penulisan sejarah yang benar adalah yang pernah dituliskan terlebih dahulu oleh Sejarawan Belanda.3 Oleh karena itu buku ini muncul untuk mengimbangi dan meluruskan Sejarah Indonesia sesuai dengan fakta.
Masih banyak manifes yang dipampang dalam buku ditulis oleh Ahmad Mansyur Suryanegara ini. Jika pembaca cermat memikirkan manifesnya, Anda memperoleh semacam insight. Karena manifes itu betul-betul memprovokasi, menggali hal yang tak umum, tapi terbukti bermanfaat memompa kesadaran kita.


Jumat, 13 Juni 2014

Beban Siapa Takut !!

Karya: Hedi Hidayat ( Sekretaris Jendral komsat KAMMI UPI 2014) 

Seandainya kita diberikan pilihan hidup, kita harus memilih hidup tenang tanpa beban atau hidup dengan adanya beban?. Dan jawabannya pasti kebanyakan dari kita akan memilih opsi yang pertama, hidup tenang tanpa memiliki beban. Santai saja pekerjaannya. Kita hidup berada di zona keheningan dan kenyamanan yang damai. Bahkan diera modern ini, hidup tenang uang ngalir itu yang menjadi angan-angan lamunan. Ahh enak sekali rasanya.

Hal inilah yang nampak dalam realitas kehidupan kita sekarang, banyak orang yang enggan menanggung beban, enggan menanggung amanah, beribu alasan muncul untuk menolak diberikannya beban dan amanah. Kata ‘Beban’ seolah menjadi kata yang tidak menyenangkan bahkan menjadi kata yang menakutkan di telinga kita. Sepertinya kita sudah mulai lupa, bahwa sesungguhnya bersama ‘beban’ inilah setiap manusia mampu menempuh dan mencapai titik-titik kritis dari kadar jiwa mereka. Dengan ‘beban’ inilah manusia mampu mengasah seluruh kemampuannya.

Sederhananya ketika kita menaiki sebuah gunung, apa yang kita rasakan? Ya, jawabanya pasti berat. Seluruh energi kita keluarkan agar mampu mencapai puncak gunung tersebut. Akan tetapi saat kita coba kembali turun kemudian naik lagi maka gunung yang pernah kita lalui akan terasa lebih ringan, tapi bukan berarti tidak mengeluarkan energi untuk turun.

Lantas beban apakah yang harus kita tanggung ? cobalah tengok keadaan Umat, keadaan bangsa, kedaan agama kita hari ini, sangat memprihatinkan bukan? itulah beban kita saudaraku, itulah amanah kita bersama, kitalah yang harus membenahi keadaan tersebut. Jadilah pahlawan, pahlawan yang mau menanggung beban yang sangat mulia, pahlawan yang berani mengemban amanah bagi kemashlahatan umat.

Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati.

Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan, jika ia tidak pernah

membuktikan keberaniannya.

Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu

membutuhkan kadar keberanian yang sama besamya

dengan pekerjaan dan tantangan itu.

Sebab, pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan risiko.

Dan, tak ada keberanian tanpa risiko

(M. Anis Matta)

Kita harus terbiasa dengan ‘beban’, jadikan beban sebagai teman dekat kita, karena orang-orang besar tidak akan jauh dari beban-beban yang harus dihadapinya. Harus kita ingat baik-baik bahwa tidak ada beban yang berat, sesuai dengan firman Allah :

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al baqarah: 286)

Mulai hari ini sambutlah beban-beban itu dengan senyuman, ketenangan rasa, kearifan jiwa, gelora cinta dan nikmati dengan harmoni. Karena hanya dengan beban itulah kita semakin dekat dengan-Nya, semakin dekat dengan hijaunya taman syurga, semakin cepat kita mendekap bidadari disana, dan kekal didalamnya. Aamiin

Wallahu’alam


Penyimpangan Gerakan Islam.


oleh: Wawan Sutiawan (Staf Kaderisasi KAMMI UPI 14) 

   Tujuan da’wah Islam adalah li i’laa-i kalimatillah, untuk menegakkan syari’at Allah di muka bumi ini. Yaitu tegaknya suatu system kehidupan yang mengarahkan manusia pada suatu prosesi penghambaan hanya kepada Allah saja. Apabila syari’at Allah belum tegak, maka beragam prosesi penghambaan kepada selain Allah akan marak dan terus tumbuh subur.
   Untuk mencapai tujuan tersebut, hanya ada satu jalan, yaitu: jalan da’wah. Inilah jalan yang telah ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasul-Rasul sebelumnya, juga para shiddiqin, syuhada dan shalihin, sebagaimana wasiat Allah swt kepada Rasul-Nya:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

   “Dan inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah engkau ikuti jalan-jalan lain, karena itu semua akan menyesatkanmu dari jalan-Nya. Itulah yang telah diwasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am:153)
   Di atas jalan inilah Rasulullah beserta pengikut-pengikutnya melangkah, walaupun jalan tersebut berliku, terjal, penuh onak duri bahkan binatang-binatang buas yang siap menerkam. Beliau dan pengikutnya tidak akan berhenti hingga tidak ada lagi fitnah dan sistem Allah (Dienullah) tegak di muka bumi ini secara total.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“…hingga tidak ada lagi fitnah, dan Dien seluruhnya adalah milik Allah.” (QS. Al-Anfal:39).
   Sehubungan dengan ini Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menyatakan, “Jalan da’wah adalah jalan satu-satunya. Jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Jalan yang juga dilalui para da’i yang mendapat taufiq Allah. Bagi kita, jalan ini adalah jalan iman dan amal, cinta dan persaudaraan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak para sahabat kepada iman dan amal. Menyatukan hati mereka dengan jalinan cinta dan persaudaraan. Maka, terhimpunlah kekuatan aqidah yang menjadi kekuatan wahdah (persatuan). Jadilah mereka jama’ah yang ideal. Kalimatnya pasti tegak dan da’wahnya pasti menang, walaupun seluruh penduduk bumi memusuhinya.”
   Beliau memilih jalan yang telah dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini dengan berlandaskan pada tiga kekuatan: kekuatan aqidah dan iman, kekuatan wahdah dan irtibath (jalinan yang kohesif), serta kekuatan senjata dan militer.
   Beliau juga menentukan tahapan-tahapan perjuangan da’wah dan aktivitas gerakan, yaitu marhalah ta’rif (tahap pengenalan), marhalah takwin (tahap pengkaderan) dan marhalah tanfidz (tahap operasional). Disamping juga menetapkan target dan sasaran yang berjenjang melalui proses tarbiyah, yaitu:

1.       Terbentuknya pribadi muslim yang ideal
2.       Terwujudnya keluarga muslim yang bertaqwa
3.      Terbinanya masyarakat muslim yang responsif terhadap seruan Allah
4.       Tegaknya pemerintahan Islam yang berlandaskan syari’at Allah.
5.      Tegaknya Daulah Islamiyah di bawah koordinasi Khilafah Islamiyah, hingga menjadi tauladan dunia, dengan idzin Allah.
   Demikianlah beliau dengan para ikhwan lainnya memahami dan mengamalkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Dan dalam mengorganisir gerakan da’wahnya, beliau tentukan rukun bai’at yang sepuluh (arkaul bai’at al-‘asyarah), dan menjadikan faham (pemahaman) sebagai rukun bai’at yang pertama dan utama. Kemudian meletakkan prinsip-prinsip yang dua puluh, sebagai kerangka yang menjelaskan pemahaman ini.
   Gerakan Ikhwanul Muslimin yang beliau dirikan inilah yang menginspirasi munculnya gerakan-gerakan Islam lain di seluruh penjuru dunia. Termasuk gerakan-gerakan Islam di Indonesia sebagian besar merujuk pada manhaj da’wah yang dirumuskan oleh para ulama Ikhwan.

a.       Penyimpangan Dalam Gerakan Da’wah
   Setelah mengalami berbagai kendala, ujian dan cobaan, alhamdulillah gerakan da’wah kita semakin diperhitungkan oleh banyak kalangan, terutama setelah gerakan ini memasuki mihwar siyasi (orbit politik) dengan memunculkan sebuah partai da’wah. Tentu banyak nilai positif yang dapat kita petik dari kehadiran partai da’wah ini, disamping ada pula ekses-ekses negatifnya, bagi da’wah itu sendiri.
   Semakin besar dukungan masyarakat terhadap partai ini, tentu semakin besar pula beban tanggung jawab yang harus dipikul. Adalah manusiawi apabila dalam proses perjalanan gerakan da’wah di ranah politik ini ada oknum-oknum aktifis da’wah (da’i) yang tergelincir dari jalan da’wah ini. Apalagi apabila partai ini semakin besar, maka terjadinya penyimpangan di kalangan pengurus partai pun akan semakin besar. Oleh karenanya mengetahui bentuk-bentuk penyimpangan da’wah menjadi keharusan, agar kita semua terhindar darinya.
   Keberhasilan dakwah Islam bergantung pada sejauh mana para pendukungnya berpegang teguh kepada keaslian ghoyah (tujuan) ahdaf (sasaran), dan khiththah (garis perjuangan). Penyimpangan dalam bentuk apapun dan sekecil apapun tak boleh dibiarkan karena bisa berkembang menjadi besar dan membahayakan gerakan dakwah.

1. Penyimpangan dalam Ghayah (Tujuan)
   Penyimpangan ini termasuk penyelewengan yang paling berbahaya. Tujuan da’wah secara moral adalah semata-mata karena Allah Ta’ala. Apabila ada motif selain itu, seperti motif-motif duniawi atau kepentingan pribadi yang tersembunyi, adalah penyimpangan.
   Setiap penyimpangan tujuan, meskipun ringan atau kecil, tetap akan menyebabkan amal tersebut tertolak. Penyimpangan ini tidak harus berarti mengarahkan motif secara total ke tujuan duniawi. Tetapi sedikit saja niat yang ada di dalam hati bergeser dari Allah, maka sudah termasuk penyimpangan. Allah tidak akan pernah menerima amal seseorang kecuali yang ikhlas karena-Nya. (QS. Az-Zumar:3, 11-14, Al-Bayyinah:5)
   Riya’, ghurur (lupa diri), sombong, egois, gila popularitas, merasa lebih cerdas, lebih pengalaman, lebih luas wawasannya, lebih mengerti syari’ah dan da’wah, terobsesi asesoris duniawi, seperti: jabatan, kehormatan, kekuasaan, kekayaan; adalah penyakit-penyakit hati yang menyimpangkan para da’i dari tujuan da’wah yang sebenarnya.
   Berda’wah itu harus bebas dari kebusukan. Barangsiapa yang berniat baik dan ikhlas, Allah akan menjadikannya sebagai pengemban da’wah. Barangsiapa menyimpan kebusukan di dalam hatinya, Allah sekali-kali tidak akan menyerahkan da’wah ini kepadanya.
   Demikian pentingnya ikhlas ini hingga Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menjadikannya salah satu dari rukun bai’at. Seluruh kader wajib berkomitmen dengannya. Menepati dan menjaganya dari segala noda, agar gerakan da’wah ini tetap bersih dan suci.
   Menurut Imam Hasan Al-Banna rahimahullah, pengertian ikhlas adalah menujukan semua ucapan, perbuatan, perilaku dan jihadnya hanya kepada Allah semata; demi mencari ridha dan pahala-Nya, tanpa mengharapkan keuntungan, popularitas, reputasi, kehormatan, atau karir. Dengan keikhlasan ini seorang kader da’wah akan menjadi pengawal fikrah dan aqidah; bukan pengawal kepentingan dan keuntungan.

2. Penyimpangan dalam Ahdaf (Sasaran Utama)
   Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menjelaskan sasaran yang hendak dituju, yakni menegakkan syari’at Allah di muka bumi dengan mendirikan Daulah Islamiyah, dan mengembalikan kejayaan Khilafah Islamiyah, sembari menyerukan Islam kepada seluruh manusia.
   Dalam risalahnya yang berjudul “Bayna al-Ams wa al-Yaum” (“Antara Kemarin dan Hari ini”), Imam Al-Banna rahimahullah mengatakan: “Ingatlah! Kalian mempunyai dua sasaran utama yang harus diraih: Pertama, membebaskan bumi Islam dari semua bentuk penjajahan asing. Kemerdekaan, adalah hak asasi manusia. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang zhalim, durhaka dan tiran.
   Kedua, menegakkan di Negara yang dimerdekakan itu, berupa Negara Islam Merdeka, yang bebas melaksanakan hukum-hukum Islam, menerapkan sistem sosial, politik, ekonominya, memproklamirkan Undang-Undang Dasarnya yang lurus, dan menyampaikan da’wah dengan hikmah. Selama Negara Islam belum tegak, maka selama itu pula seluruh umat Islam berdosa, dan akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Disebabkan keengganan mereka menegakkan syari’at dan Negara Islam, serta ketidakseriusan mereka dalam upaya mewujudkannya.”
   Dalam risalah Al-Ikhwan Al-Muslimun “Di bawah bendera Al-Qur’an”, beliau menjelaskan tugas dan target gerakan da’wah ini: “Tugas besar kita adalah membendung arus materialisme, menghancurkan budaya konsumerisme dan budaya-budaya negatif yang merusak umat Islam. Materialisme dan konsumerisme menjauhkan kita dari kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan petunjuk Al-Qur’an, menghalangi dunia dari pancaran hidayah-Nya, dan menunda kemajuan Islam ratusan tahun. Seluruh faham dan budaya tersebut harus dienyahkan dari bumi kita, sehingga umat Islam selamat dari fitnahnya.
   Kita tidak berhenti sampai di sini. Kita akan terus mengejarnya sampai tempat asalnya, dan menyerbu ke markasnya, hingga seluruh dunia menyambut seruan baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dunia ini terselimuti ajaran-ajaran Al-Qur’an, dan nilai-nilai Islam yang teduh menaungi seisi bumi. Pada saat itulah sasaran dan target kaum Muslimin tercapai.”
   Dalam menyoroti keadaan negeri-negeri Muslim sekarang ini beliau menyatakan dengan gamblang: “Sungguh ini merupakan kenyataan yang dapat kita saksikan. Idealitas Undang-Undang Dasar Islam berada di satu sisi, sedangkan realitas objektifnya berada di sisi lain. Karena itu ketidakseriusan para aktifis da’wah untuk memperjuangkan diberlakukannya hukum Islam adalah suatu tindakan kriminal; yang menurut Islam tidak dapat diampuni dosanya kecuali dengan upaya membebaskan sistem pemerintahan dari tangan pemerintah yang tidak memberlakukan hukum-hukum Islam secara murni dan konsekuen.”
   Demikianlah ahdaf (sasaran utama) dari gerakan da’wah ini dirumuskan oleh tokoh utama dan pemimpin gerakan da’wah kotemporer, Imam Hasan Al-Banna rahimahullah.
Jadi, apabila ada aktifis da’wah (da’i) yang menyatakan bahwa partai da’wah ini tidak akan memperjuangkan syari’at Islam, dengan alasan apapun (politis maupun diplomatis), jelas telah menyimpang dan menyeleweng dari sasaran gerakan da’wah yang utama. Mestinya mereka justru menyebarkan opini tentang kewajiban menegakkan syari’ah bagi setiap muslim, secara massif, bukan malah menyembunyikanya. Apalagi di era reformasi yang setiap orang bebas bicara apa saja karena dilindungi Undang-Undang.
   Kemudian, apabila partai da’wah berkoalisi dengan partai, organisasi, atau komunitas lain yang berbasis ideologi asing, juga telah menyimpang. Karena tugas gerakan da’wah Islam adalah membebaskan umat dari penjajahan atau dominasi asing, baik itu ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial. Bukan malah bekerjasama dalam ketidakjelasan maksud dan tujuan.
   Para kader da’wah atau da’i yang terpengaruh kemudian menganut paham materialisme dan gaya hidup konsumerisme juga telah menyimpang dan menyeleweng dari sasaran gerakan da’wah ini. Mereka seharusnya memberi contoh berupa keteladanan hidup yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sederhana dan santun dalam keinginan dan kebutuhan.
   Kesalahan dan dosa mereka hanya bisa ditebus dengan menyosialisasi kewajiban menegakkan syari’at kepada seluruh elemen umat, dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh; serta menghindari diri dari sikap dan perilaku materialistis dan konsumtif.

3. Penyimpangan dalam Pemahaman
   Salah satu persoalan mendasar dalam gerakan da’wah adalah: Pemahaman. Pemahaman yang benar dan utuh tentang Islam dan manhaj da’wah Islam menjadi krusial, sebab kekeliruan pemahaman akan Islam dan manhaj da’wahnya menjadikan gerakan ini berbelok arah, sehingga tidak akan pernah sampai ke tujuan.
   Imam Al-Banna rahimahullah memberikan perhatian yang serius terhadap persoalan pemahaman ini. Ia curahkan segenap kemampuannya untuk menyuguhkan Islam sebagaimana yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wujudnya yang bersih dari segala bentuk penyimpangan, baik dalam hal aqidah, ibadah dan syari’ah. Terhindar dari pertentangan yang dapat memecah belah umat, dan distorsi hakikat Islam yang dilakukan para musuh Islam di masa lalu maupun kini. Dan beliau menjadikan pemahaman ini rukun bai’at yang pertama dan utama.

Bentuk-bentuk penyimpangan dalam pemahaman ini, antara lain:
o. Mengadopsi pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan pemahaman yang benar tentang Islam, Al-Qur’an dan Sunnah shahih, melontarkan dan menyosialisasikan pemikiran aneh tersebut sehingga membuat bingung umat.
o. Menolak hadits-hadits shahih dan hanya menerima Al-Qur’an saja. Mengutamakan rasionalitas ketimbang hadits-hadits shahih, dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara tendensius tanpa kaidah-kaidah yang benar.
o. Memaksakan semua kader da’wah untuk mengikuti satu pendapat ijtihadiyah dalam masalah furu’ yang memiliki beberapa penafsiran pendapat. Pemaksaan seperti ini akan mengubah gerakan/jama’ah da’wah menjadi firqah, atau madzhab tertentu; yang bukannya tidak mungkin akan dengan mudahnya mengeluarkan statement: “Siapa yang sependapat dengan kami maka dia adalah golongan kami. Yang tidak sependapat, dia bukan golongan kami, maka pergilah menjauh dari kami.”Perlu diingat bahwa gerakan da’wah ini didirikan bukan atas dasar madzhab tertentu dalam masalah furu’. Gerakan ini harus dapat merekut semua umat Islam untuk mempersatukan mereka dalam bingkai aqidah.
   Dalam menghadapi masalah-masalah furu’ ini, hendaknya diambil yang lebih kuat dalil dan argumentasinya, dan tidak mengecilkan atau menyepelekan pendapat orang lain, meskipun ia berada di luar orbit gerakan da’wah ini. Islam mengajarkan kita melihat content (esensi) pendapatnya, bukan siapa yang berpendapat.
   Memperbesar masalah-masalah juz’iyah dan far’iyah, dengan mengenyampingkan masalah kulliyat (prinsip).
    Imam Hasan Al-Banna rahimahullah telah menghimbau kita agar kembali kepada kaidah bijaksana: “Hendaknya kita bekerjasama dalam hal yang disepakati, dan saling tenggang rasa dalam masalah yang masih diperselisihkan.”
    Membatasi gerakan da’wah ini membicarakan Islam dalam hal-hal tertentu yang tidak menyinggung para penguasa pemerintahan maupun para pemimpin gerakan da’wah Islam. Padahal kita diwajibkan menyuguhkan Islam secara utuh, mengajak dan mengamalkannya secara utuh pula.

4. Penyimpangan dalam Khiththah (Langkah-Langkah Strategis)

    Mengikuti Pola Partai Politik Sekuler.Dalam hal ini menjadikan politik sebagai panglima, bukan lagi da’wah. Menitik beratkan pada faktor kuantitas pendukung (bukan kualitas), dengan tujuan mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya dalam pemilu.
   Ini merupakan penyimpangan yang membahayakan bangunan da’wah. Sasaran kita bukan sekedar mencari orang yang mau memberkan suaranya di pemilu, tetapi kita membutuhkan orang yang siap mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah.
   Kita membutuhkan orang yang sabar, mau berkorban, tabah, bersedia menanggung beban-beban da’wah, memahami kepentingannya dan bertanggung jawab terhadap amanah yang dibebankan kepadanya.

    Kita menginginkan orang-orang yang mencari akhirat, bukan mereka yang memburu pangkat. Kita mencari orang-orang yang rindu kampung surgawi, bukan orang-orang yang memburu kekuasaan duniawi. Kita menginginkan orang-orang yang kommit dengan nilai-nilai syar’i, bukan orang-orang yang terobsesi kursi. Kita menginginkan orang-orang yang selalu ingat akan janji Allah, bukan orang yang cepat lupa dengan janji-janji yang dia lontarkan pada waktu kampanye.
   Kita tidak menginginkan gerakan da’wah ini dikuasai oleh orang-orang yang berambisi kekuasaan dan harta semata, dengan segala kewenangan dan fasilitasnya. Kita juga tidak butuh orang-orang yang gemar melakukan lompatan-lompatan yang tidak syar’i untuk meraih ambisi-ambisi pribadinya. Tetapi kita butuh orang-orang yang akan bekerja menegakkan Dienullah, dan beriltizam pada syari’at serta menjauhi cara-cara pencapaian tujuan yang tidak syar’i.
   Mengabaikan Faktor TarbiyahTiadanya perhatian yang layak terhadap tarbiyah akan menyebabkan rendahnya tingkat pemahaman setiap individu, yang pada gilirannya tidak akan melahirkan kader yang mampu membantu meringankan beban jama’ah. Tarbiyah berpengaruh terhadap ketahanan kader dalam menghadapi tantangan dan tuntutan amal di jalan da’wah, baik pada saat-saat kritis yang membutuhkan pengorbanan, maupun ketika panggilan jihad telah dikumandangkan.

Penyebab terabaikannya faktor tarbiyah:
o. Aktifitas politik mendominasi seluruh amal da’wah, sehingga waktu, tenaga, fikiran dan dana tersedot ke aktifitas tersebut.
o. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan murabbi, dan naqib, sehingga menyebabkan rendahnya kualitas pembinaan kader yang berujung pada stagnasi pertumbuhan kader.
 o. Usrah atau halaqah berubah menjadi forum sosialisasi qadhaya, bukan solusi qadhaya. Usrah hanya menjadi forum mencari info dan pengumuman, padahal semestinya sebagai wadah pembinaan, pembentukan serta perbaikan akhlak, ruhani dan intelektualitas.
 o. Usrah atau halaqah hanya menjadi wadah untuk membentuk kader-kader da’wah yang tak siap berdialog secara kritis dan analistis, karena lebih ditekankan metode indoktrinasi, ketimbang diskusi.
o. Mengabaikan Prinsip “The Right Man on The Right Place” dalam penyusunan struktur jama’ah da’wah.Penyimpangan lain yang berbahaya adalah menempatkan kader pada struktur jama’ah yang tidak sesuai potensi dan kemampuannya, tetapi berdasarkan “like and dislike”. Juga memberi amanah atau tugas kepada kader yang tidak sesuai dengan kompetensinya. Hal ini dapat merusak efektifitas gerakan serta menyeret pada ekses-ekses yang dapat melemahkan eksistensi jama’ah dan mempermudah timbulnya berbagai penyakit lain.
o. Menerima Prinsip dan Ideologi SekulerRabbaniyah adalah prinsip dasar da’wah setiap gerakan Islam. Da’wah pada hakikatnya memperjuangkan nilai-nilai Rubbubiyah, Uluhiyah, Mulkiyah dengan cara-cara yang diizinkan Rabb dan dicontohkan oleh Rasul-Nya, oleh kader-kader Rabbani (para Murabbi dan mutarabbi), demi mencari ridha Allah. Dengan demikian kita tidak boleh menerima prinsip dan ideologi Sekularisme, Nasionalisme, Pluralisme, Liberalisme, Komunisme, Kapitalisme juga Sosialisme, walaupun diberi embel-embel Islam di belakangnya.
o.  Membiarkan Jama’ah Dipimpin dan Dikuasai Orang yang Tidak JelasGerakan Islam harus memiliki kepribadian Islam yang jelas, dalam pemahaman, tujuan, langkah dan keputusan-keputusannya. Ia tidak boleh tunduk kepada penguasa. Tidak boleh tergiur oleh harta dan tahta. Musuh-musuh gerakan Islam memiliki cara tertentu untuk menghancurkan gerakan da’wah. Apabila cara-cara fisik dianggap tidak efektif meredam laju gerakan da’wah, maka adakalanya mereka menggunakan cara yang lebih halus tetapi daya rusaknya hebat. Seperti misal, menyusupkan agen intelijen ke dalam saf gerakan Islam. Agen ini berusaha untuk diterima seluruh elemen jama’ah, menempel pada qiyadah jama’ah, mempengaruhinya dalam setiap pengambilan keputusan, dan secara licin dan lihai membelokkan arah gerakan ini menuju lembah kebinasaan. Sejarah keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyah di Turki, karena disusupi intelijen Yahudi, mestinya menjadi pelajaran berharga bagi setiap gerakan Islam.
o. Berpartisipasi dalam Pemerintahan yang Tidak Menjalankan hukum AllahPada dasarnya kita tengah berupaya menjalankan hukum Allah dan tidak akan menyetujui hukum atau aturan apapun yang bertentangan dengan syari’at Allah. Tidak dapat dibenarkan kader gerakan Islam ikut masuk dan berpartisipasi dalam pemerintahan yang tidak menjalankan syari’at Islam, apalagi apabila dia tidak mampu mempengaruhi pemerintahan tersebut, dan bahkan menjadi terpengaruh oleh sistem yang tidak islami. Sikap ini termasuk penyimpangan dari tujuan gerakan Islam ini.
   Mungkin dalam situasi kondisi tertentu, atas izin jama’ah, setelah melalui pertimbangan syari’ah dan politik yang matang, diperlukan ikut serta dalam pertimbangan. Dengan pengertian pemerintahan tersebut dalam transisi menuju terbentuknya sistem pemerintahan Islam yang sempurna. Hal ini dapat dibenarkan dengan syarat ada kontrak politik tertulis berupa jaminan bahwa pemerintah setuju untuk mewujudkan hal tersebut. Hal ini tidak boleh diserahkan kepada ijtihad pribadi. Apabila kesepakatan itu dilanggar, maka kita harus segera melepaskan diri dari partisipasi tersebut, agar tidak tertipu dan tergelincir dari tujuan gerakan da’wah yang mulia ini.
   Berkoalisi dengan Pihak Lain dengan Mengorbankan Prinsip dan Tujuan Da’wahDengan sebab dan alasan apapun, tidak dibenarkan mengadakan koalisi dengan pihak-pihak yang tidak memiliki kesamaan ideologi, visi dan misi dalam memperjuangkan tegaknya syari’at Allah. Apalagi jika koalisi tersebut harus mengorbankan prinsip-prinsip Islam yang akan diwujudkan melalui perjuangan kita selama ini.
   “Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, maka mereka pun bersikap lunak pula kepadamu.” (QS. Al-Qalam:9)
   Begitu pula, tidak dibenarkan melakukan koalisi sdengan mengorbankan sasaran dan target yang selama ini kita berusaha mencapainya. Kalau hal ini dilakukan, berarti kita telah menjurus kepada penyimpangan dan pergeseran dari prinsip, serta menyeret semua amal dan pengorbanan ke arah yang tidak benar. Bahkan meratakan jalan bagi musuh untuk menguasai dan menentukan arah dan langkah pergerakan kita.
   Karena itu, menjadi kewajiban kita semua untuk mengingatkan agar jangan mengangkat orang-orang yang tidak jelas ideologi perjuangannya menjadi pemimpin. Jangan memberi dukungan kepada orang-orang yang zhalim dan korup. Jangan tunduk kepada mereka karena iming-iming harta dan posisi. Jangan mengadakan perjanjian yang akan membahayakan eksistensi gerakan Islam. Mari kita berhati-hati, dan tidak memberikan kepercayaan, dukungan dan loyalitas kepada musuh-musuh Allah. Allah telah mengingatkan:

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, walaupun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan ke dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pu ridha terhadap Allah. Mereka itulah Hizbullah (Partainya Allah). Ketahuilah bahwa sesungguhnya Partai Allah itulah yang akan memperoleh kemenangan.” (QS. Al-Mujadalah:22)
   Mengabaikan Prinsip dan Keputusan SyuraAllah mewajibkan syura kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun beliau telah mendapat wahyu. Beliau selalu melaksanakan syura bersama para sahabatnya karena perintah Allah dan sebagai tasyri’ bagi umat Islam. Untuk itulah, beliau mengikuti pendapat Habbab dalam perang Badar, dan mengikuti usulan Salman dalam perang Khandaq.
    Syura penting kedudukannya dalam gerakan Islam dan “amal jama’i”. Dengan syura akan diperoleh pendapat yang lebih matang dan benar. Ia memberi kesadaran akan dasar-dasar keikutsertaan dalam tanggung jawab. Syura juga menumbuhkan suasana saling percaya dan kerjasama antara semua anggota jama’ah.
    Setiap individu dalam gerakan Islam dituntut agar bersifat positif dan aktif dalam da’wah. Ia harus ikut memikirkan, memberikan pandangan-pandangan dalam mewujudkan kemanfaatan, menghindari kemuidharatan, serta membantu qiyadahnya dengan pemikiran, ide, gagasan, serta nasihat, sesuai dengan adab da’wah.
   Kepada para qiyadah, apapun jabatannya, harus bermusyawarah dengan para kadernya. Memanfaatkan pandangan dan pemikiran mereka dalam menghadapi persoalan dan kemelut. Berlapang dada dalam menerima nasihat yang diberikan kader, walaupun dirasa pahit dan caranya kurang berkenan, agar da’wah tidak kehilangan kebaikan yang terkandung di dalam nasihat tersebut.
   Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kedua amirul mukminin Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu yang ketika memberi sambutan di hari pelantikannya sebagai Khalifah, keduanya meminta teguran rakyat atas segala bentuk penyelewengan.
   Amirul mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu bersikap lapang dada terhadap seorang rakyat yang berkata lantang kepadanya di hadapan masyarakat banyak: “Kalau kami melihat Anda melakukan penyimpangan, maka kami akan meluruskannya dengan pedang kami!”
   Pelanggaran terhadap prinsip dan keputusan syura yang dilakukan qiyadah, apapun jabatannya, ilmu dan keahliannya, disamping menyimpang dari khiththah perjuangan, juga berarti pengkhianatan terhadap misi da’wah.
   Begitu pula bagi para kader yang bersikap pasif, tidak memberikan pendapat, masukan dan nasihat kepada qiyadah, serta merasa tidak bertanggung jawab atas masalah tertentu yang strategis, adalah bentuk penyimpangan dan pelanggaran atas prinsip syura dalam da’wah.
   Di antara bentuk penyimpangan lain dari prinsip syura yang berbahaya adalah menjadikan syura sebagai formalitas belaka yang kering dari esensi. Ada Majelis Syura, namun pembentukannya diintervensi dan keputusannya direkayasa oleh pihak-pihak tertentu. Islam menolak segala bentuk manipulasi dan penipuan. Sangat ketat dalam proses pemilihan anggota Majelis Syura, karena mereka bukan saja bertanggung jawab kepada jama’ah; tetapi juga kepada rakyat dan yang paling penting kepada Allah Yang Maha Tahu. Pemilihan anggota majelis syura harus melibatkan semua kader dan elemen jama’ah, dengan mempertimbangkan kebenaran, keadilan dan keridhaan Allah, bukan keridhaan qiyadah. Barangsiapa melanggar hal ini, berarti telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman.
   Demikianlah sebagian dari bentuk-bentuk penyimpangan dalam gerakan Islam yang dapat menggelincirkan kita dari tujuan da’wah yang mulia dan suci. Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari hal-hal tersebut di atas. Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal mawla wa ni’man-nashir.

Wallahu a'lam bish-shawwab.